Senin, 10 Agustus 2026

Beginikah gambaran surga di dunia? 🌿☕️








Jika di dunia saja Tuhan sudah menghadirkan bahagia sesederhana ini,

bagaimana indahnya surga yang sesungguhnya?

Cukup duduk berdua dengan pasangan,
berbagi cerita dalam deep talk tentang banyak hal,
meneguk secangkir kopi dan segelas air kelapa,
menikmati ubi, pisang, dan jagung rebus seadanya.

Ditemani semilir angin,
kicau burung, hijaunya pepohonan,
dan tawa kecil yang lahir tanpa dibuat-buat.

Tak ada kemewahan,
tak ada yang perlu dikejar.

Hanya dua hati yang merasa cukup,
dua insan yang saling mendengar,
dan sebuah sore sederhana yang terasa begitu sempurna.

Ternyata bahagia tak selalu tentang memiliki banyak.
Kadang, bahagia hanyalah tentang duduk bersama orang yang tepat,
di tempat yang tenang,
dan mensyukuri apa yang sudah Tuhan titipkan.
🤍🌿

Kamis, 12 September 2019

TUGAS SPEECH TO TEXT (STT) DAN TEXT TO SPEECH (TTS)




TUGAS SPEECH TO TEXT (STT)

Lilis Wulansari, S.Pd
SMP NEGERI 1 KOTA SUKABUMI
VIRTUAL COORDINATOR TRAINING (VCT) BATCH 5  JAWA BARAT

Saya membuat reviewe konten rumahbelajar.id ini untuk memenuhi salah satu tugas tambahan
 Virtual Coordinator Training (VCT) Bacth 5 Jawa Barat. Dalam membuat tugas ini saya menggunakan aplikasi online https://dictation.io/speech untuk mengerjakan tugas Speech to Text (STT) dan aplikasi https://translate.google.com untuk mengerjakan tugas Text to Speech (TTS) dan hasilnya sebagai berikut:

REVIEWE KONTEN KE-1
Kategori Seri Pendidikan Orang Tua




Judul Buku
Menyelesaikan Konflik Pada Anak
Kontributor Naskah 
Andri Nurcahyani
Penyunting Naskah 
 Agus Mohamad Solihin, Suradi
Penelaah
Gita Kartabrata, Sumarti, Bukik Setiawan, Sri Lestari Yuniarti, Lilis Hayati, Roland Zakaria
 Penata Letak
 Tina Fatimah dan Intan Nur Fajri
Sekretariat
 Anom Haryo Bimo, Maryatun, Nugroho Eko Prasetyo, Surya Nilasari, Titien Erwinawati
Penerbit
Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga
Direktorat Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Tahun Terbit
2018

Alasan saya memilih konten pendidikan orang tua yang berjudul “Menyelesaikan Konflik Pada anak” adalah karena saya sebagai orang tua dengan tiga orang anak yang sedang mengalami pertumbuhan dan perkembangan baik secara fisik, psikis maupun pola pikirnya dalam menjalani kehidupannya.
Keberhasilan kita dalam mendidik anak-anak tentunya tidak lepas dari sejauhmana pengetahuan dan keterampilan orangtunya dalam mendidik anak. Dalam perkembanganya mereka sebagai anak-anak yang tumbuh dalam lingkungan yang berbeda-beda tentunya kita sebagai orangtua membutuhkan pengentahuan pola asuh yang sesuai. Karena kita tahu bahwa menjadi orangtua itu tidak pernah ada sekolahnya. Menjadi orangtua artinya kita siap untuk belajar seumur hidup bagaimana menjadi orangtua yang baik untuk anak-anak kita. Konten “Menyelesaikan Konflik Pada Anak” ini wajib menjadi referensi para orangtua dalam menghadapi konflik yang dialami putra-putrinya. Karena konten ini memberitahukan kepada kita bagaimana mengenali dan cara menyelesaikan secara sistematis konflik yang sering dialami oleh anak-anak kita.

Ternyata jika kita sebagai orangtua tidak mengenali masalah atau konflik apa yang dihadapi anak kita dan anak kitapun tidak tahu harus berbuat apa dalam menghadapinya. Sunguh dampaknya sangat mengerikan. Oleh Karena itu dalam konten ini dijelaskan secara mendetil bagaimana cara kita mengenali dan mendampingi konflik pada anak-anak kita.

Konten “ Menyelesaikan Konflik Pada Anak” terdiri dari 32 halaman yang menarik untuk dibaca dan diselami isinya. Karena dengan membaca konten ini kita menjadi tahu bahwa selama ini kita masih jauh memahami siapa anak-anak kita dengan permasalahanya. Cara kita menangani anak bermasalahpun dijelaskan tahap-tahapnya dengan bahasa yang lugas, simple dan mudah dipahami. Banyak hal yang bisa kita pelajari dan terapkan dalam menyelesaikan konflik pada anak-anak.

Hal yang paling menarik yang saya temui dalam konten ini adalah bagaimana cara kita berbicara dengan anak ketika mereka memiliki masalah/ konflik, dampak apa saja yang bisa terjadi jika kita sebagai orangtua mengabaikan hal tersebut dan tahapan apa saja yang bisa kita lakukan ketika anak-anak kita menhadapi sebuah konflik. Oh ternyata ketika anak-anak  panik dengan masalahnya mereka sangat memerlukan kehadiran kita untuk mendengarkan dan memberitahu secara baik-baik. Dan menyelesaikan masalah itu tidak cukup dengan minta maaf atau nasihat secara verbal tapi diperlukan juga sentuhan non verbal seperti rangkulan, pelukan untuk menenangkan mereka. Dan semua itu perlu ruang dan waktu untuk duduk bicara bersama-sama dari hati ke hati antara kita dan mereka.

Kesimpulan dari konten "Menyelesaikan Konflik Pada Anak" adalah sebagai berikut masalah dapat melatih kemampuan berpikir berkomunikasi dan berempati pada anak. Anak perlu terpapar pada berbagai situasi yang beragam untuk membantunya bertahan dalam menghadapi tantangan hidup. Namun terkadang karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman mereka dalam menghadapi masalah atau konflik membuat mereka prustasi dan panik sehingga kita sebagai orangtua perlu turun tangan membantu menyelesaikannya. Anak yang memiliki keterampilan dalam menyelesaikan masalahnya, kelak akan lebih mudah mengontrol dirinya dan menyelesaikan masalahnya secara mandiri.

Demikianlah reviewe konten " Menyelesaikan Konflik Pada Anak".  Mohon maaf jika dalam menyajikan reviewe konten ini masih banyak kekurangan dan keterbatasan. Terima Kasih.

Salam Hormat
Lilis Wulansrai, S.Pd
Guru SMP Negeri 1 Kota Sukabumi

Link rekaman STT youtube : https://youtu.be/MW1oc7iIXPI
Link rekaman TTS youtube : https://youtu.be/yUGgSWIRzX0


REVIEWE KONTEN KE-2
Kategori Seri Pendidikan Orang Tua
MELEK MEDIA





Pengarah
Sukiman
 Penanggungjawab
  Palupi Raraswati
Penyunting Naskah
  Agus M. Solihin, Suradi
Kontributor Naskah
  Adiyati Fathu Roshonah, Fitriani FS, Gita Kartabrata, Maswita Djaja, Sumarti, Tin Herawati
Penelaah
   Lilis Hayati, Roland M. Zakaria, Sri Lestari Yuniarti, Ninin Nirawaty
 Penyunting Bahasa
  Meity Taqdir Qadratillah
 Layout
   Damar Fitriana, Harta Dewa, Intan Nur Fajri, Jodi Rahman, Nur Afni Yustikasari
 Sekretariat 
Anom Haryo Bimo, Indah Meliana, Maryatun, Nugroho Eko Prasetyo, Reza Oklavian, Surya Nilasari,  Titien Erwinawati
Diterbitkan oleh:
Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga Direktorat Jendral Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan
Tahun Terbit
2017

Ketika saya mencoba mencari-cari konten yang menarik di rumahbelajar.id, saya jatuh hati pada sebuah konten yang berjudul “Seri Pendidikan Orangtua  Melek Media” karena di jaman milenial ini dimana semua sudah terintegrasi dengan tehnologi, kita sebagai orangtua harus bisa menyesuaikan diri dengan pola asuh anak-anak jaman now atau anak-anak milenial yang mau tidak mau suka tidak suka hidup berdampingan dengan media, baik media cetak maupun media digital yang sudah berkembang pesat sesuai dengan perkembangan tehnologi. Dan mungkin bisa jadi media sudah menjadi bagian dari kehidupan mereka yang tidak bisa dipisahkan lagi. Sehingga baik kita sebagai orangtua maupun anak-anak kita harus melek media agar tidak ketinggalan dengan percepatan era revolusi indrustri, tehnologi dan pendidikan 4.0 ini.

Konten “Seri Pendidikan Orangtua Melek Media” terdiri dari 48 halaman dengan pemaparan menggunakan Bahasa yang mudah dipahami oleh siapapun. Adapun isi dari konten ini adalah menjelaskan begitu detil tentang melek media. Apa itu melek media? Melek media adalah kemampuan seseorang untuk memahami, memilah dan memilih yang baik dan menerapkan apa yang diserap dari media. Nah dalam konten ini juga  dijelas mengapa anak kita harus melek media,  macam-macam media yang ada saat ini, apa pengaruh media sosial pada anak, dan bagaimana cara kita mendampingi mereka serta bagaimana cara kita menyampaikan hal apa saja yang harus dihindari anak dalam menggunakan media internet.

Fenomena jaman sekarang dimana era tehnologi dan informasi begitu gencar menyerang anak-anak kita. Berbagai infomasi datang dan dengan mudahnya diakses oleh mereka tanpa filter. Ada yang bermanfaat dan ada yang tidak bermanfaat. Oleh sebab itu orang tua perlu mendampingi anak dalam memilih dan memilah informasi. Kita harus pintar menggunakan media mana yang cocok dikenalkan kepada anak-anak kita sesuai dengan usia pertumbuhan dan perkembanganya. Sehingga media yang dibutuhkan anak tepat guna dan tepat sasaran tidak asal latah mengenalkan dan memfasilitasi anak Karena takut kita disebut orangtua yang kuper atau konvensional. Kita yang tahu kebutuhan anak kita dan kita yang punya kendali dalam memenuhinya sesuai dengan kadar kebutuhan usia mereka akan media. Pola asuh kita dalam mengenalkan media kepada anak akan berpengaruh dalam kehidupannya sehari-hari kelak.

“ Seri Pendidikan Orangtua Melek Media” wajib menjadi referensi kita sebagai orangtua untuk menambah pengetahuan dan wawasan dalam mendampingi putra-putri kita. Terutama dalam kehidupan jaman sekarang yang penuh tantangan dan persaingan di era dimana percepatan tehnologi media cetak maupun media digital begitu pesatnya. Sehingga tidak cukup mengandalkan pengetahuan kita sebagai orangtua yang hidup era sebelumnya.

Demikian reviewe ini saya buat dengan segala keterbatasan pengetahuan yang saya miliki semoga bermanfaat dan terima kasih atas perhatiannya.

Salam Hormat
Lilis Wulansari, S.Pd
Guru SMP Negeri 1 Kota Sukabumi

Link Rekaman STT : https://youtu.be/zE0_KE5x2eM
Link Rekaman TTS : https://youtu.be/X7vaNGdPTSI






Selasa, 17 Mei 2016

DONGENG SUNDA "SASAKALA TANDUK UNCAL"

Dina hiji poe,kira wanci haneut moyan. Sakadang Kuda nangtung sisi talaga, ngadon moyan bari ngeunteung kana cai. Bari ngeunteung teh manehna ngomong sorangan, “Bener kasep, gagah aing teh. Awak lampayat, tanduk rangakgak jeung sareukeut deuih. Moal aya , sato anu ginding kawas aing, anu boga tanduk sakieu alusna..” Sabot muji maneh, jol aya uncal nyampeurkeun. Rek ngadon nginum gigireun kuda. Kuda ujug-ujug haok bae ngambek bari molotot. Omongna, “Heh Uncal ! Rek naon kadieu? Haling kaditu. Ulah ngiruhan cai paranti nginum kuring. Maneh mah teu kudu ngeunteung. Da geus tetela, suku pacer goreng patut, teu boga tanduk kawas aing." Keur kitu aya maung disada ngagaur tikajauhan. Kuda jeung uncal beretek bae lalumpatan. Patarik-tarik. Sieuneun ditekuk maung. Kuda lumpat pangheulana, karepna rek nyumput dinu buni. Tapi tandukna tikait kana areuy-areuyan. Atuh teu bisa kebat lumpatna. Sanajan manehna abrug-abrugan tandukna teu lesot. Malah beuki kapuket ku areuy, Teu kungsi lila, jol datang uncal kadinya. Ceuk kuda. “ eh sakadang uncal tulungan kuring, ieu tanduk kuring tikait kana areuy, meni pageuh kieu” Uncal karunyaeun tuluy areu-areuy anu melit kana tanduk teh digegelan nepi paregat. Geus kitu belenyeng bae kuda jeung uncal teh lalumpatan deui. Sieuneun kasusul ku maung. Hadena maung teh teu kebat ngudagna. Ditempat nu aman kuda jeung uncal areureun. Kuda ngomong ka uncal. “ sakadang uncal, nuhun pisan kaula geus ditulungan ku sampean. Mun teu ditulungan ku anjeun mah meureun kuring teh geus tewas ditekuk maung. Pikeun pamulang tarima, ieu kaula masrahkeun tanduk. Prak pake ku sampean turun tumurun. Hatur nuhun uncal.” Tanduk kuda teh rap dipake ku uncal nepi ka kiwari. Tah kitu dongengna sasakala mimiti gaduh tanduk dina huluna.

Kamis, 17 Juli 2014

KAULINAN BARUDAK


oray - orayan


Oray-orayan luar-léor mapay sawah
Entong ka sawah paréna keur sedeng beukah
Oray-orayan luar-léor mapay leuwi
Entong ka leuwi di leuwi loba nu mandi
Saha nu mandi anu mandi pandeuri

Oray-orayan luar-léor mapay kebon
Entong ka kebon
Loba barudak keur ngangon
Mending gé teuleum di leuwi loba nu mandi
Saha nu mandi
Nu mandi pandeuri.


O
ray-orayan nya éta kawih kaulinan anu dilakonan ku barudak nu rék ulin oray-orayan, biasana saméméh ulin oray-orayan sok silicekel heula taktak. Nu tukang nyekel taktak nu hareupeunnana jeung saterusna tuluy maju ka kénca ka katuhu katempona ngaléor siga oray bari ngawih tuluy luar-léor mapayan jalan ngurilingan budak nu keur jaga jadi guha nepi ka asup salah saurang budak tuluy dititah milih rék kamana, naha rék milu ka kelompok nu ka hiji guha katuhu atawa rék milih kelompok nua ka dua guha ka kénca, 
Oray-orayan mangrupa-rupa salah sahiji kaulinan barudak baheula hususna di tatar sunda, nu kungsi karandapan jeung katungkulan ku urang baheula keur leutik keneh.Ngan hanjakal eta kaulinan teh geus jarang dilakonan ku barudak jaman kiwari.Kitu deui jeung kaulinan barudak sejenna,samodel : bébénténgan, congklak,  engklé, gatrik, jeung rea-rea deui.
 Sakumaha nu kauninga ku urang sadayana, dina kaulinan sunda mah, kawilang kumplit malihanan katelah cawokahna, nu matak urang sunda mah teu weleh heureuy jeung heureuy, jeung tara asa-asa, malahan batur heureuy sorangan nepikeun ka leweh/ceurik alatan ku eta pangheureuyan.Ngan eta kaulinan biasana di hiji wewengkon jeung wewengkon nu lianna sok aya nu beda, boh dina ngamaenkeunana boh dina eusina, ngan ngaranna mah sok sarua.
Namung kaulinan barudak  hususna di lembur, kalolobaanana geus teu kaciri deui dilakonan ku barudak ayeuna. Ayeuna mah barudak kiwari pangulinannana teh teu jauh jeung anu modern, malahan geus teu aheng deui maranehna sapopoena ulinna di hareupeun monitor atawa tipi, samodel game online, PS, lalajo VCD atawa DVD, jeung rea-rea deui.
Beda jeung kaulinan elektronis nu sipatna nyorangan teu kedah ngaluarkeun kesang atanapi lulumpatan, beda jeung kaulinan barudak jaman baheula ieu biasana kudu dipaenkeun ku leuwih ti saurang. Sipat ieu tangtuna mangaruhan sifat budak sacara umum. Kaulinan elektronis ngadidik budak jadi teu kaiket, ngulik jeun kompetitip. Sabalikna, kaulinan heubeul ngajarkeun budak hirup sauyunan jeung paheuheuyeuk leungeun. Sawatara jalma boga pamadegan yén ieu téh aya hubunganna jeung sipat barudak ayeuna, hartina masarakatna nu bakal kahareup, anu leuwih gedé rasa kasoranganana jeung turun rasa babarenganana.

Dua sifat ieu aya goréng aya alusna, teu bisa dibédakeun hideung bodas. Ieu tangtuna tangtangan pikeun kolot supaya bisa ngawanohan budak jeung dunyana supaya kahareupna generasi hareup jadi generasi nu mardika, kompetitip, ngulik tapi teu égois, atawa boga 'rasa sosial' nu lemes.
            Salian ti ngajarkeun rasa babarengan eta, hiji ciri lain
kaulinan barudak lembur baheula teh biasana mah tara leupas ti kakawihan, sanajan kawihna ngan saukur kawih pondok tur leuwih deukeut kana hariring tibatan kana ngawih. 

Rupa-rupa Kaulinan Barudak di Tatar Sunda


Kaulinan

Cara maenkeunana
kaulinan nu niru-niru jelema nu geus rumah tangga, aya bapa, ibu, anak, tatangga, warung, pasar, jsb. Biasana dilakukeun ku barudak awéwé, tapi saupama aya budak lalaki sok pirajeunan dijadikeun bapa.
kaulinan anu dipetakeun ku cara silihbeunangkeun (ditoél) bari ngajaga bénténg anu dijaga ku batu, talawéngkar, jsb.
kaulinan anu maké bal béklén jeung sawatara kewuk. Biasana dilakukeun di jero imah atawa téras.
kaulinan anu maké bal saukuran bal ténis pikeun malédog talawéngkar nu ditumpukkeun. Upama keuna, anu jadi ucing kudu ngaberik terus malédogkeun bal ka nu malédog tumpukan talawéngkar bieu. Kitu terus nepikeun kabéh pamaén keuna kabalédog.
kaulinan maké papan kai dieusi kewuk.
kaulinan di jero imah bari kakawihan. Aya nu jadi ucing nu kudu neguh barang anu dikeupeul ku batur. Upamana nu ngeupeul éta batuna kateguh, gantian jadi ucing.
kaulinan bari kakawihan.
kaulinan anu maké mikir lantaran butuh stratégi sangkan buah dam urang teu béak dihakan ku buah dambatur anu jadi lawan urang.
kaulinan maké leungeun bari kakawihan. Leungeun ditumpuk bari meureup nyarupa endog, terus gogoléangan atawa endogna peupeus nuturkeun kawih.
kaulitan mangsa sawah dibuat ku cara niupan tarompét tina jarami.
kaulinan anu biasana maké sarupaning sisikian (siki asem, siki tanjung, jsb.)
kaulinan ku cara éngklé-éngkléan bari suku nu teu napak kana taneuh mawa batu. Nalika nepi kana kalang anu jadi bates, batu éta kudu ditajongkeun kana batu séjén anu ditangtungkeun
kaulinan maké kalang di taneuh buruan ku cara lumpat ti hiji kalang ka kalang lain terus balik deui. Salila bulak-balik, teu meunang katoél atawa beunang ku nu ngajaga kalang. Dipaénkeun baladan.
kaulinan maké awi bébékan anu kudu dibetrikkeun pajauh-jauh ku jalan diteunggeul ku paneunggeul tina awi ogé.
kaulinan paluhur-luhur nyieun gugunungan tina taneuh, biasana taneuh ngebul.
kaulinan lobaaneun anu salah saurangna jadi hayam, saurang nu lain jadi careuhna. Hayam diudag-udag careuh bari lulumpatan sanajan teu laluasa lantaran dihalang-halang nu séjén anu jadi pager.
kaulinan leumpang maké awi dua anu aya panincakan. Disebut ogé égrang
kaulitan ngaluncatan tali anu dicekelan ku duaan. Talina saeutik-saeutik diluhurkeun.
kaulinan maké kaléci. Aya rupa-rupa aturan.
kaulinan lobaaneun bari kakawihan, pacekel-cekel taktak, jeung ngantay maju siga oray luar-léor.
kaulinan bari kakawihan jeung paciwit-ciwit leungeun nuturkeun paréntah kawih
kaulinan bari kakawihan jeung nyangkedkeun unggal suku sabeulah, terus puputeran teu meunang leupas.
kaulinan nangkeup tihang imah ku sababaraha urang pauntuy-untuy. Aya hiji nu kudu nyobaan ngabetot budak ti nu pangtukangna sina leupas.
kaulinan peperangan pabalad-balad bari maké pedang anu dijieun biasana tina awi. Saurang dianggappaéh upama sukuna ti tuur ka handap katoél ku pedang musuhna. Kitu saterusna nepikeun kabéh musuhpaéh.
kaulinan ku cara éngklé-éngkléan make ngaliwatan kalang kotak-kotak. Aya kotak anu ditandaan ku kojo (tina batu) anu teu meunang ditincak.
ampir sarua jeung éngklé, ngan batuna dibawa ku suku bari leumpang gancang terus sarua ditajongkeun kana batu séjén anu ditangtungkeun
kaulinan lulumpatan jeung nyingcétan lantaran diudag jeung rék ditoél ku nu jadi ucing.
kaulinan néangan batur nu nyumput upama saurang jadi ucing. Biasana ucing ngitung heula méré waktu batur nyumput saacan kudu néangan kabéhanana. Aya rupa-rupa aturan.